Sistem Kemitraan Vertikal
Pada Usaha Kentang Varietas Atlantik Dengan PT Indofood Fritolay Makmur (IFM)
Berdasarkan tujuan akhir, pemasaran kentang di
Pangalengan secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga jalur utama, yaitu pasar
tradisional, pasar modern, dan industri pengolahan.
Pemasaran ke pasar tradisional, baik pasar lokal
maupun pasar induk di Bandung dan Jakarta mengikuti jalur dari petani >
pedagang pengumpul > pedagang besar > pedagang pasar tradisional/induk.
Untuk pemasaran ke pasar modern, kentang dipasok ke pasar swalayan di Bandung
atau luar Bandung. Pada segmen pasar ini, yang paling berperan adalah pemasok
skala besar karena pasar swalayan biasanya tidak hanya meminta satu komoditas
(kentang saja), tetapi juga sayuran lain. Pada pemasaran ke industri
pengolahan, seperti Indofood, pemasaran dilakukan melalui pola kemitraan dengan
jenis dan kualitas produk yang sudah ditentukan.
Jalur pemasaran juga dipengaruhi oleh jenis kentang.
Kentang Granola biasanya dipasarkan ke pasar tradisional dan pasar modern,
sedangkan kentang Atlantik untuk industri pengolahan. Produksi kentang Atlantik
saat ini masih terbatas karena: (1) benih masih diimpor, (2) teknologi
pengolahan kentang belum dikuasai oleh masyarakat, dan (3) pasarnya hanya untuk
industri tertentu. Rendahnya produksi kentang Atlantik menjadi sinyal bahwa
mengusahakan kentang jenis ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan Granola.
Dalam memasarkan kentang Atlantik, petani di
Pangalengan melalui gabungan kelompok tani (gapoktan) Anugrah, membangun
kemitraan dengan PT Indofood Fritolay Makmur (IFM). Kemitraan yang dibangun
sejak tahun 2006 itu masih berlanjut hingga kini.
Kinerja Kemitraan
Gapoktan Anugrah merupakan gabungan dari 10 kelompok
tani di Pangalengan dan sekitarnya dengan jumlah anggota 400-an petani kentang
Atlantik. Keanggotaan gapoktan tidak dibatasi oleh batas administratif desa,
tetapi mencakup desa lain yang petaninya menanam kentang Atlantik sebagai mitra
PT IFM. Untuk kelompok tani lain yang ikut dalam kemitraan dengan PT IFM,
pemasarannya juga melalui gapoktan Anugrah.
Permasalahan yang dihadapi oleh gapoktan bukan
produktivitas maupun tingkat harga yang rendah, tetapi justru kebalikannya.
Produktivitas kentang Atlantik rata-rata 15 t/ha, atau berkisar antara 12-30
t/ha. Dengan produktivitas yang tinggi dan harga yang terjamin, banyak petani
yang ingin menanam kentang Atlantik. Namun, keinginan tersebut sulit dipenuhi
karena ketersediaan benih dari PT IFM terbatas. Pengiriman benih dari PT IFM
juga sering terlambat akibat prosedur di Karantina Tumbuhan sehingga benih
tidak bisa didistribusikan segera ke petani, padahal penanaman kentang harus
dilakukan sesuai musim. Jika musim tanam sudah terlewat, hasil akan menurun
bahkan gagal panen.
Petani kentang Atlantik umumnya terbuka terhadap
teknologi dan di antara mereka saling berbagi pengalaman (keberhasilan). Informasi
disampaikan secara transparan. Ini berbeda dengan petani kentang Granola yang
masih sering menyimpan rahasia keberhasilan budi daya kentang. Saat akan mulai
menanam kentang Atlantik, anggota gapoktan menyerahkan Kartu Tanda Penduduk
untuk mendapatkan benih dari PT IFM. Dalam setahun, kentang ditanam dua kali diselingi
kol atau kacang panjang.
Usaha tani kentang Atlantik dinilai lebih memiliki
kemudahan dibandingkan dengan Granola. Benih disediakan oleh perusahaan (PT IFM)
dan akan dibayar setelah panen, sedangkan untuk modal (nonbenih) bisa
mengajukan pinjaman ke Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) βAmanah Raba Niahβ
di Banjaran, Kabupaten Bandung.
Pengiriman hasil panen dari Pangalengan ke pabrik PT
IFM di Tangerang rata-rata 12 truk setiap hari, masing-masing 8 ton. Jumlah tersebut
lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas pabrik sebesar 120 ton/hari. Umur
panen optimal kentang Atlantik adalah 3 bulan, namun dapat pula dipanen saat
berumur 2 bulan tetapi hasilnya lebih rendah. Harga benih kentang Atlantik
termasuk tinggi (Rp9.000/kg). Petani biasanya
menyiasatinya dengan sistem βkodokβ, yaitu setelah kentang tumbuh, umbi
bibit diambil lalu ditanam lagi dan cara ini bisa sampai tiga ulangan.
Untuk memperlancar kemitraan yang melibatkan ratusan
petani, PT IFM dan gapoktan menunjuk ketua kelompok tani sebagai koordinator.
Pembentukan kelompok diharapkan dari inisiatif petani, dan PT IFM sebagai mitra
memang menghendaki petani bergabung dalam kelompok jika ingin melakukan
kemitraan. Harga kentang prangko pabrik adalah Rp3.800/kg dan diterimakan ke
petani Rp3.400/kg. Sisanya Rp350/kg untuk operasional (trans portasi,
penyortiran, pengemasan) dan Rp50 untuk gapoktan. Biaya transportasi ke pabrik
di Tangerang sebesar Rp200/kg. Selama trans-portasi, kentang mengalami
penyusutan 2%. Kentang yang busuk, hijau, terbelah cangkul atau boleng tidak
diterima oleh pabrik.
Pola kemitraan ini terdapat pada pengusahaan komoditas
kentang. Dalam mekanisme kemitraan tersebut, pengikat kemitraan antara PT. IFM
dengan kelompok tani adalah berupa kesepakatan/komitmen yang terbangun antara
kedua belah pihak. Kesepakatan tersebut tidak dalam bentuk MoU tertulis, namun
lebih bersifat verbal dan harus saling mentaati. Pihak PT. IFM mengharapkan agar
para petani yang terwadahi dalam kelompok tani melakukan budidaya kentang
Atlantik secara baik dengan sumber benih dari PT. IFM (melalui PT. MAL) dan
selanjutnya PT. IFM akan menampung seluruh hasilnya dari para petani dengan
harga kontrak yang disepakati kedua belah pihak.
Beberapa
kewajiban PT. Indofood Fritolay makmur adalah :
1.
menyediakan bibit dengan varietas atlantik dengan kualitas terjamin
(berasal dari Scotlandia, Western Australia), dengan harga Rp. 9000,-/kg;
2.
menyediakan sarana produksi lain bagi yang memerlukan yang bersifat
tidak mengikat;
3.
melakukan pembinaan teknis budidaya dengan pendampingan seorang Agro
Supervisor;
4.
Menampung hasil dari petani dengan harga dan spesifikasi produk yang
telah disepakati.
Sementara itu, petani atau kelompok
tani berkewajiban :
1.
membeli bibit varietas Atlantik yang disediakan oleh Perusahaan Mitra;
2.
melakukan budidaya kentang atlantik sesuai anjuran;
3.
menjual hasil kepada Perusahaan Mitra,
4.
membayar kredit bibit dengan sistem bayar setelah panen dengan cara dipotong
pada saat penyerahan barang.
Hak
Perusahaan Mitra adalah mendapatkan jaminan produksi atau bahan baku baik dari segi
jumlah, kualitas, dan kontinuitas berdasarkan kesepakatan, di mana harga
ditetapkan sebelum menanam yaitu sebesar Rp. 3.800,-/kg franko pabrik atau Rp. 3.450-3.500
di tingkat vendor.
Sementara itu, Petani Mitra memiliki hak atas
jaminan harga dan pasar sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Pola interaksi
dilakukan secara tatap muka terutama pada saat sosialisasi dan melakukan kesepakatan-kesepakatan.
Melalui mediasi agro supervisor yang ada disetiap lokasi. Serta melalui media
telepon atau hand pond. Sedangkan transaksi dapat dilakukan melalui transfer
bank maupun melalui mediasi agro-supervisor.
Pola yang dikembangkan oleh PT. Indofoof Fritoley
Makmur adalah dapat diilustrasikan pada Gambar 2. berikut :
POLA KEMITRAAN (vertikal) GAPOKTAN ANUGRAH DENGAN PT. IFM
Hak dan Kewajiban Pelaku
Kemitraan
PT IFM berkewajiban menyediakan benih kentang dan
akan dibayar petani saat panen. Harga benih Atlantik adalah Rp9.000/kg. PT IFM
juga berkewajiban untuk membeli kentang petani dengan harga Rp3.800/kg prangko
pabrik, sementara harga di tingkat petani Rp3.400/kg. Harga kentang Atlantik lebih
tinggi dibandingkan dengan Granola yang hanya Rp3.200/kg.
Dalam kemitraan, dilakukan pemantauan secara ketat
dan memberikan sanksi kepada petani yang menjual kentang ke luar PT IFM. Hal
ini biasanya terjadi jika harga kentang Granola lebih tinggi dibandingkan
dengan Atlantik. PT IFM dan gapoktan akan selalu memantau harga kentang Granola
dan kemungkinan penjualan kentang Atlantik ke pasaran umum.
Kemitraan berjalan dengan azas saling percaya.
Petani secara individu sebenarnya menginginkan adanya kontrak resmi, karena
selain lebih pasti secara hukum, dokumen kontrak dapat digunakan untuk meminjam
modal ke bank. Walaupun demikian, melalui kemitraan (tanpa kontrak), petani
telah mendapat kemudahan dalam pemasaran dan modal.
PT IFM membayar hasil panen kentang petani melalui
Bank Bukopin. Biasanya gapoktan bisa mencairkan dana 12 hari setelah
pengiriman. Pembayaran dari gapoktan ke petani melalui beberapa cara, yaitu: (1) dibayarkan 12 hari
setelah panen, (2) dibayar tunai saat ditimbang, dan (3) dibayarkan sebelum
panen (pinjam uang, misalnya 1 bulan sebelum panen). Jika petani menginginkan
pembayaran tunai saat kentang ditimbang maka harga jualnya lebih rendah Rp70/kg
dibandingkan dengan harganormal (Rp3.400/kg). Jika 1 bulan sebelumnya petani
sudah mengambil uang ke gapoktan maka harga kentang berkurang Rp120/kg. Untuk
membantu pembayaran ke petani (pola 2 dan 3), ada lembaga keuangan yang
bersedia memberikan pinjaman.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2009). Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 31.
Dipetik Juni 8, 2012, dari pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/wr313098.pdf.\
Sayaka, B, dkk. (2008). Pengembangan Kelembagaan Patnership Dalam
Pemasaran Komoditas Peertanian. Dipetik Juni 08, 2012, dari
pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/LHP_2008_SYK.pdf